jump to navigation

Menuju Makan Sejati September 25, 2008

Posted by Nanang in Umum.
Tags: , , ,
trackback

Puasa: Menuju Makan Sejati
Emha Ainun Nadjib

Puasa itu jalan sunyi
Tersedia makanan tapi tak dimakan
Tersedia kursi tapi tak diduduki
Tersedia tanah tapi tak dipagari
Puasa itu jalan sunyi
Menggambar tapi tak terlihat
Bernyanyi tapi tak terdengar
Menangis tapi tak diperhatikan
Puasa itu jalan sunyi
Menjadi tanpa eksistensi
Pergi menuju kembali
Hadir tapi tak dikenali

ILMU Rasulullah Muhammad, “hanya makan ketika lapar dan berhenti makan
sebelum kenyang”, telah menjadi pengetahuan hampir setiap pemeluk
Agama Islam, tetapi mungkin belum menjadi ilmu. Puasa demi puasa,
Ramadlan demi Ramadlan beserta fatwa demi fatwa yang senantiasa
menyertainya dengan segala kerendahan hati harus saya katakan belum
cukup mengantarkan kita dari permukaan pengetahuan menuju kedalaman
ilmu.

Ada jarak yang tak terkirakan antara pengetahuan dengan ilmu, meskipun
khasanah kebahasaan kita dengan kalem menyebut ilmu pengetahuan di
lembaran-lembaran kamusnya. Dengan berkunjung ke sebuah museum, kita
bisa memperoleh pengetahuan tentang sebilah pedang, lengkap dengan
semua data tentang panjang-lebarnya, asal-usul sejarahnya, serta logam
suku cadangnya, termasuk berapa kepala yang dulu pernah dipenggalnya.

Tetapi, ilmu baru terjadi tatkala pedang itu telah menyatu dengan
tangan kita. Bukan saja kita sanggup menggenggamnya dan
mendayagunakannya dengan seribu teknik silat; lebih dari itu ilmu
ditandai oleh realitas menyeluruh, di mana pedang itu telah menjadi
bagian dari diri kita, bagian dari badan kita, akal pikiran kita,
emosi hati kita, termasuk budi dan kearifan jiwa kita.

Pengetahuan barulah tataran terendah dari persyaratan mutu dan
aktualitas eksistensi mahluk yang bernama manusia. Tetapi, ilmu pun
belumlah “langit” tertinggi dalam kosmos “ahsani taqwin” sebaik-baik
mahluk – manusia. Sebab, ilmu pedang bisa merupakan awal mula dari
tertikamnya dada seseorang. Oleh karena itu, di atas ilmu si
penggenggam kebenaran ada langit lebih tinggi yang bernama hubb atau
cinta. Cinta adalah rem, pembijak, pengatif, yang terkandang nikmat
terkadang sakit, bagi kemungkinan pembunuhan atau permusuhan yang
dipotensialkan oleh ilmu pedang. Ini berlaku pada skala mana pun, di
kesempitan pergaulan sehari-hari hingga di keluasan peradaban.

Adapun jika ilmu jika penghayatan akan kebenaran, bersenyawa, bekerja
sama, berkoperasi, berposisi, dan berkelangsungan intermanagable, atau
denan kata lain “bersuami-istri dengan hubb” atau cinta maka
tercapailah tataran “taqwa”.

Tanpa itulah target puasa. Taqwa itulah cakrawala perjalanan
kemusliman manusia. Taqwa lebih tinggi dari nilai kebenaran dan nilai
cinta. Apalagi dibandingkan tataran norma, hukum formal, adat, serta
tabung-tabung formal kultural lainnya dalam komunitas atau kejamaahan
umat manusia. Taqwa itu suatu atmosfer yang bukan main menyejukkan,
menenteramkan, dan membahagiakan, yang terletak di garis kemungkinan
“liga rabb”, yakni kemungkinan pertemuan hamba-hamba hina dina macam
kita ini dengan Allah. Sekarang bisalah kita membandingkan, apa
beda kemungkinannya jika pedang berada di tangan orang berpengetahuan,
dengan jika ia tergenggam di tangan orang berilmu saja, atau jika ia
tergenggam di tangan orang yang bercinta saja dengan jika ia
tergenggam di tangan orang yang bertaqwa.

Kemudian gampanglah bagi kita untuk memproyeksikan: jika pedang itu
adalah kekuatan fisik, adalah kekuasan politik, adalah modal dan
peluang ekonomi, adalah pasal-pasal hukum, atau apa pun saja.
Gampanglah kita perhitungkan: terjaditikaman, siapa yang menikam dan
yang tertikam, seberapa dahsyat akibat sejarah dari ketertikaman itu,
ataukah mungkin berlangsung suatu ketaqwaan peradaban, di mana pedang
tak pernah menikam, di mana ketajaman pedang ditaqwai untuk hanya
menguak kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Makan yang sejati

Rasanya tak enakuntuk memuji-muji Muhammad. Ada situasi psikologis
tertentu dalam pergaulan teologis dan kultural di lapangan integrasi
nasional kita, yang menjadi sumber ketidakenakan tersebut.

Sepenuhnya saya memahami itu. Secara kultural, untuk situasi semacam
itu, saya harus pelti” pujian. Tetapi, dalam konteks ilmu kita tidak
bisa menemukan argumentasi apa pun untuk melakukan hal yang sama.
Tidak kebetulan bahwa arti harfiah kata “Muhammad adalah juga yang
terpuji”. Apa yang ingin saya lakukan dengan tulisan ini hanyalah
mencicil landasan rasional agar kita berhak menyebut rasul terakhir
itu dengan Muhammad. Kalau tak cukup pengetahuan dan ilmu, syukur
cinta dan ketaqwaan, maka jika kita memanggilnya dengan mesra “Ya
Muhammad kekasih”, rasanya kosong, tak ada muatannya. Muhammad
menolehkan kepalanya dan melirikkan bola matanya ke arah kita, tetapi
hati, nalar dan budinya tak ikut merasa terpanggil, karena panggilan
kita memang tanpa nalar, hati dan budi. Beliau pasti kecewa.

“Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang” Adalah
formula tentang kesehatan hidup. Tak hanya menyangkut tubuh, tapi juga
keseluruhan mental sejarah. Ia adalah contoh soal lebih dari sekadar
teori keilmuan tentang keefektifan dan efisiensi.

Selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cenderung mentabukan
perut. Orang yang hidupnya terlalu profesional dan hanya mencari uang,
kita sebut “diperbudak oleh perut”. Para koruptor kita gelari “hamba
perut” yang mengorbankan kepentingan negara dan rakyat demi perutnya
sendiri.

Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, kebutuhan perut amat sederhana
dan terbatas. Ia sekadar penampung dan distributor sejumlah zat yang
diperlukan untuk memelihara kesehatan tubuh. Perut tak pernah
mempersoalkan, apakah kita memilih nasi pecel atau pizza, lembur
kuring atau masakan Jepang.

Yang menuntut berlebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak
untuk disantuni dengan jenis makanan cukup seharga seribu rupiah.
Tetapi, lidah mendorong kita harus mengeluarkan sepuluh ribu, seratus
ribu, aau terkadang sejuta rupiah.

Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jasmani dengan
rohani. Satu kaki lidah berpijak di kosmos jasmani, kaki lainnya
berpijak di semesta rohani. Dengan kaki yang pertama ia memanggul
kompleks tentang rasa dan selera; tak cukup dengan standar 4 sehat 5
sempurna, ia membutuhkan variasi dan kemewahan. Semestinya cukup di
warung pojok pasar, tapi bagian lidah yang ini memperkuda manusia
untuk mencari berbagai jenis makanan, inovasi dan paradigma teknologi
makanan, yang dicari ke seantero kota dan desa. Biayanya menjadi
ratusan kali lipat.

Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu
dunia misterius, yang bernama mentalitas, nafsu, serta
kecenderungan- kecenderungan aneh yang mensifati budaya manusia.
Makan,
yang dalam konteks perut hanya berarti menjaga kesehatan, di kaki
lidah itu diperluas menjadi bagian dari kompleks kultur, status
sosial, gengsi, feodalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit
kejiwaan komunitas manusia lainnya.

Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut
dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimanipulir atau
diartifisialkan menjadi urusan-urusan kultur danperadaban, yang
biayanya menjadi amat, sangat mahal. Budaya artifisialisasi makan ini
dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos industrialisasi segala
bidang kehidupan, serta disahkan oleh kepercayaan budaya, bahwa harus
senantiasa ada proses kreatif: orang menyelenggarakan modifikasi
budaya makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung
tempat makannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pewarnaan meja
kursi dindingnya hingga karaokenya.

Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya juga menciptakan berbagai
ketergantunan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam
keterlanjuran ketergantungan itu, manusia bernegosiasi di bursa efek,
menyunat uang proyek, memborong gunung-gunung dan hutan-hutan, bahkan
berperang dan membunuh satu sama lain.

Padahal perut hanya membutuhkan “makan ketika lapar dan berhenti makan
sebelum kenyang”.

Maka yang bernama “makan sejati” ialah makan yang sungguh-sungguh
untuk perut. Adapun yang pada umumnya kita lakukan selama ini adalah
“memberi makan kepada nafsu”.

Perut amat sangat terbatas dan Allah mengajarinya untuk tahu membatasi
diri. Sementara nafsu adalah api yang tak terhingga skala perbesaran
atau pemuaiannya. Jika filosofi makan dirobek dan dibocorkan menuju
banjir bandang nafsu tak terbatas, jika ia diartifisialkan dan
dipalsukan dan tampaknya itulah salah satu saham utama beribu konflik
dan ketidakadilan dalam sejarah umat manusia maka sesungguhnya itulah
contoh paling konkret dari terbunuhnya efisiensi dan keefektifan.
Rekayasa budaya makan pada masyarakat kita, dari naluri sehari-hari
hingga aplikasinya di pasal-pasal rancangan pembangunan jangka pendek
dan jangka panjang, mengandung inefisiensi atau keborosan dan
keserakahan, yang terbukti mengancam alam dan kehidupan manusia
sendiri; di samping sangat tidak efektif mencapai hakikat tujuan makan
itu sendiri.

Kebutuhan sejati

Aktivitas puasa selalu diartikan – dan memang benar demikian – sebagai
peperangan melawan nafsu. Cuma barangkali karena pengetahuan dan ilmu
kita tentang musuh yang harus diperangi itu tidak bertambah, maka
strategi dan taktik perang kita pun kurang berkembang.

Kalau kita mendengar tentang nafsu makan, asosiasi kita menunjuk ke
makan, bukan ke nafsunya. Maka ketika istri kita ke pasar, yang dibeli
terutama adalah pesanan-pesanan nafsu, bukan kapasitas kebutuhan makan
yang diperlukan. Setiap pelaku puasa punya pengalaman untuk cenderung
mendambakan dan menumpuk berbagai jenismakanan dan minuman sepanjang
hari, kemudian ketika saat berbuka tiba, ia baru tahu, bahwa perut
sama sekali tidak membutuhkan sebanyak dan semewah itu.

Pelajaran yang diperoleh dari peristiwa semacam itu seharusnya adalah
kesanggupan memilahkan antara dorongan nafsu dengan kebutuhan makan.
Kegiatan puasa jadinya bukanlah pertempuran melawan “tidak boleh
makan” atau “tidak adanya makanan”, melainkan melawan nafsu itu
sendiri yang menuntut pengadaan lebih dari sekadar makanan.

Puasa adalah penguraian “nafsu” dari “makan”. Untuk tidak makan dari
subuh hingga maghrib, putra kita yang baru duduk di kelas III Sekolah
Dasar saja pun sudah sanggup. Untuk “tidak makan” jauh lebih gampang
dan ringan dibanding untuk “tiak bernafsu makan”, terutama bagi para
penghayat “makan yang sejati”.

Seorang Sufi yang taraf pergaulannya dengan makan tinggal hanya
berkonteks kesehatan tubuh, dalam hidupnya ia tak pernah lagi ingat
makan, kecuali ketika perutnya lapar. Ia bukan merekayasa untuk hanya
makan ketika lapar, tapi memang betul-betul sudah tak ingat makan
sampai perutnya mengingatkan, bahwa ia lapar.

Untuk ingat lapar, cukup perut yang melakukannya, tapi untuk berhenti
makan sebelum kenyang, manusia memerlukan dimensi-dimensi rohani
tinggi kemanusiaannya untuk mengingatnya. Ia memerlukan nalar ilmu
kesehatan tentang makan yang sehat, yakni tentang kurang dan tak
lebih. Ia juga memerlukan ilmu dan kearifan yang lebih tinggi untuk
melatih ketepatan kapasitas makan, agar ia memperoleh ketepatan pula
dalam aktivitas “makan” yang lain di bidang-bidang kehidupan yang
lebih luas.

Dalam pelajaran keaktoran teater, ada metoda “biasakan makan minum
yang pas, agar dalam bermain drama engkau tidak overacting dan juga
tidak underacting. “

Padahal ilmu “makan sejati” atau “makan pas”-nya Rasulullah Muhammad
juga berlaku untuk segala makan dalam kehidupan.

Kita masuk ke toko serba ada dengan segala gemerlap yang tidak
memanggil-manggil kebutuhan kita, melainkan mengundang nafsu kita.
Saya mohon maaf, bukan saya bermaksud mematikan nafkah para pedagang,
tetapi bermilyar-milyar rupiah dikeluarkan orang untuk membeli
pelayanan atas nafsu, bukan pelayanan atas kebutuhan.

Program-program pembangunan kita memacu tahyul; mengetalasekan
beribu-ribu jenis konsumsi yang tak sejati, yang sebenarnya belum
tentu dibutuhkan oleh konsumen. Iklan-iklan industri adalah kendaraan
budaya yang mengangkut jutaan manusia dari terminal kebutuhan ke
terminal nafsu, dari kesejatian dan kepalsuan. Mereka dicetak untuk
merasa rendah atau bahkan merasa tak ada, apabila tidak memiliki
celana model ini dan kosmetika model itu. Merk-merk dagang adalah
strata tahyul dan klenik. Para pasien di rumah sakit budaya tinggi,
budaya gengsi, budaya kelas priyayi, menyerbu warung-warung status
modernitas tidak untuk membeli barang, melainkan membeli
anggapan-anggapan tentang barang.

Salah satu wajah dunia industri modern adalah tahyul konsumtifisme,
yang menjadi sumber dari berbagai konflik serius di bidang persaingan
ekonomi, pergulatan kekuasaan politik hingga penyelewengan hukum.

Ini adalah kata-kata “purba”, yang terasa lucu dan naif untuk
diperdengarkan. Tapi, tak bisa kita menghapusnya, karena setiap orang
- setidaknya beberapa hari menjelang ajalnya – akan mendengar
kata-kata semacam itu dari lubuk hati dan kesadarannya sendiri.

Puasa mengajarkan dan melatih pelaku-pelakunya untuk makan, untuk
memiliki sejumlah uang dan kekayaan, untuk bersedia menggenggam
kekuasaan, untuk menjadi ini-itu atau melakukan apa pun saja hanya
ketika benar-benar dalam keadaan “lapar sejati”, bukan dalam keadaan
“merasa lapas karena nafsu”.

Jika orang menjalankan puasa dengan pengetahuan, ilmu, cinta, dan
ketaqwaan, ia akan terlatih untuk bertahan pada “makan yang sejati”.
Yakni, terlatih untuk mengambil jarak dari nafsu. Terlatih untuk tidak
melakukan penumpukan kuasa dan milik, tidak melakukan monopoli,
ketidakadilan, serta penindasan, karena telah diketahui dan
dialaminya, bahwa itu semua adalah “makanan palsu”.

Tetapi, alangkah sedihnya menyaksikan, betapa dunia ini diisi oleh
banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar,
serta oleh banyak manusia yang tak habis-habisnya makan, padahal ia
sudah amat kekenyangan.

Untunglah, bahwa bagi para pelaku puasa sejati, kesabaran untuk
menyaksikan keburaman hidup semacam itu bisa justru meningkatkan
perolehan kemuliaan dan kesejatiannya.

Comments»

1. arista - August 24, 2009

artikel nya mantep neh